Minggu, 12 Januari 2014

Kepemimpinan



Kepemimpinan
Pengertian pemimpin adalah seseorang yang mampu menggerakanpengikut untuk mencapai tujuan organisasi.

Dari berbagai definisi yang ada, kepemimpinan dapat diartikan :
* Seni untuk menciptakan kesesuaian paham
* Bentuk persuasi dan inspirasi
* Kepribadian yang mempunyai pengaruh
* Tindakan dan perilaku
* Titik sentral proses kegiatan kelompok
* Hubungan kekuatan/kekuasaan
* Sarana pencapaian tujuan
* Hasil dari interaksi
* Peranan yang dipolakan
* Inisiasi struktur

Tipe kepemimpinan :
1) Tipe pemimpin Otokratis
Yaitu seorang pemimpin yang otokratis adalah seorang pemimpin yang:
• Menganggap organisasi sebagai milik pribadi
• Mengidentikan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi
• Menganggap bawahan sebagai alat semata- mata
• Tidak mau menerima kritik, saran, dan pendapat
• Terlalu bergantung kepada kekuasaan formalnya
• Dalam tindakan penggerakannya sering mempergunakan pendekatan yang mengandung unsur paksaan dan punitif (bersifat menghukum)

2) Tipe Militeristis
Yaitu seorang pemimpin yang bertipe militeristis adalah seorang pemimpin yang memiliki sifat- sifat:
• Sering mempergunakan sistem perintah dalam menggerakkan bawahannya
• Senang bergantung pada pangkat dan jabatan dalam menggerakkan bawahannya
• Senang kepada formalitas yang berlebih- lebihan
• Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan
• Sukar menerima kritikkan dari bawahan
• Menggemari upacara- upacara untuk berbagai acara dan keadaan

3) Tipe Paternalistis
Yaitu seorang pemimpin yang:
• Menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa
• Bersikap terlalu melindungi
• Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan dan inisiatif
• Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan daya kreasi dan fantasinya.
• Sering bersikap maha tahu

4) Tipe Kharismatis
Hingga kini para pakar belum berhasil menemukan sebab- sebab mengapa seorang pemimpin memiliki kharisma, yang diketahui adalah bahwa pemimpin yang demikian mempunyai daya tarik yang amat besar dan karenanya pada umumnya mempunyai pengikut yang jumlahnya sangat besar. Karena kurangnya pengetahuan tentang sebab musabab seorang menjadi pemimpin yang kharismatis, maka sering dikatakan bahwa pemimpin yang demikian diberkahi dengan kekuatan gaib (supernatural powers).

5) Tipe Laissez Faire
Yaitu seorang yang bersifat:
• Dalam memimpin organisasi biasanya mempunyai sikap yang permisif, dalam arti bahwa para anggota organisasi boleh saja bertindak sesuai dengan keyakinan dan hati nurani, asal kepentingan bersama tetap terjaga dan tujuan organisai tetap tercapai.
• Organisasi akan berjalan lancar dengan sendirinya karena para anggota organisasi terdiri dari orang- orang yang sudah dewasa yang mengetahui apa yang menjadi tujuan organisasi, sasaran yang dicapai, dan tugas yang harus dilaksanakan oleh masing- masing anggota.
• Seorang pemimpin yang tidak terlalu sering melakukan intervensi dalam kehidupan organisasional.
• Seorang pemimpin yang memiliki peranan pasif dan membiarkan organisasi berjalan dengan sendirinya

6) Tipe Demokratis
Yaitu tipe yang bersifat:
• Dalam proses penggerakkan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia adalah makhluk termulia di dunia
• Selalu berusaha mensinkronisasikan kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan dan tujuan pribadi dari para bawahannya
• Senang menerima saran, pendapat bahkan kritik dari bawahannya
• Selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses dari padanya.
• Selalu berusaha mengutamakan kerjasama dan kerja tim dalam usaha mencapai tujuan
• Berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin
• Para bawahannya dilibatkan secara aktif dalam menentukan nasib sendiri melalui peran sertanya dalam proses pengambilan keputusan.


Dinamika Konflik Dalam Organisasi



Kasus: Rumah Sakit Kolombo

Bapak subaki, adalah direktur utama rumah sakit kolombo.  Subaki baru saja memulai pertemuan dengan administrator rumah sakit, saudara asmuni. Tujuan pertemuan adalah untuk mencari penyelesaian yang dapat diterima oleh semua pihak tentang masalah konflik wewenang yang jelas kelihatan antara saudara Rinto dan kepala bagian operasi, dr. Hastomo.
            Masalah yang dipersoalkan dr. Hastomo menyangkut supervisor ruang operasi, Rinto Panggabean, dimana Rinto membuat skedul serangkaian kegiatan operasi rumah sakit sesuai kebijaksanaan-kebijaksanaan yang dia “percaya” telah digariskan oleh administrator rumah sakit. Salah satu sumber kejengkelan para ahli bedah adalah sikapnya bahwa penggunaan ruang-ruang operasi rumah sakit harus dibuat maksimum bila biaya-biaya rumah sakit akan ditekan atau diturunkan. Oleh karena itu Rinto menyusun skedul dengan suatu pedoman bahwa waktu menganggur ruang pengoperasian harus diminimumkan. Para ahli bedah mengeluhkan skedul pelaksanaan operasi sering tidak memungkinkan mereka mempunyai cukup waktu untuk menyelesaikan prosedur pembedahan dengan cara yang mereka pikir perku dilakukan.
Scheduling seperti ini menurut para staf pembedahan mengakibatkan penanganan pasien dengan kualitas rendah. Lebih lanjut para ahli bedah telah mengeluh bahwa Rinto menunjukkan pilih kasih dalam schedulingnya yang mengizinkan beberapa dokter menggunakan lebih lama ruang operasi daripada yang lain.
            Situasi mencapai kritis ketika dr.Hastomo memecat Rinto. Rinto kemudian mengajukan banding kepada administrator rumah sakit, yang sebaliknya memberi informasi kepada dr.Hastomo bahwa pemecatan para perawat adalah hak administratif. Dr.Hastomo menegaskan bahwa dia mempunyai wewenang terhadap segala masalah yang mempengaruhi praktik medis dan perawatan pasien secara baik dalam rumah sakit.
             Setelah pertemuan antara Subaki dan Asmuni mulai, Asmuni menjelaskan posisinya pada masalah yang terjadi. Selama mendengarkan asmuni, Subaki menempatkan dirinya pada posisi dr.Hastomo yang berlawanan, yang telah berpendapat bahwa para dokter bedah dan medis memegang hak-hak istimewa staf dan tidak akan pernah membiarkan seorang “awam” untuk membuat keputusan mengenai praktik medis. Dr.Hastomo juga telah mengatakan bahwa asmuni harus diberitahu untuk membatasi kegiatan-kegiatannya pada pembelanjaan,pencarian dana,pemeliharaan, pengelolaan rumah tangga masalah-masalah administratif, bukan masalah medis. Dr. Hastomo kemudian minta kepada subaki untuk memperjelas, dengan suatu cara definitif, garis-garis wewenang dalam rumah sakit Kolombo.
            Setelah Subaki mengakhiri pertemuannya dengan Asmuni, kepelikan masalah telah jelas baginya,tetapi penyelesaiannya masih belum begitu jelas. Subaki tahu bahwa perlu dibuat suatu keputusan dan segera.


Pertanyaan kasus:  
1.   Mengapa saudara berpendapat bahwa konflik telah berkembang di rumah sakit kolombo?
Karena pembahasan konflik telah menjalar dari yang hanya membahas konflik soal wewenang antara saudara Rinto dan dr.hastomo berlanjut ke permasalahan kepentingan individu masing-masing. 
 2.  Apakah penetapan garis-garis wewenang secara jelas akan memecahkan semua masalah-masalah yang digambarkan dalam kasus?mengapa atau mengapa tidak?
Menurut saya garis-garis wewenang secara jelas dapat memecahkan masalah, karena dengan adanya wewenang yang wajib mereka kerjakan pasti tidak akan menimbulkan masalah dan menjauhkan dari masalah 
 3.   Apa yang harus dilakukan bapak basuki?
Yang harus dilakukannya adalah mencari jalan terbaik untuk semuanya dan di pertemukan pihak yang berkonflik juga dibicarakan secara musyawarah untuk mendapatkan mufakat